Kenapa Standar Kecantikan Harus Diartikan Kembali? – Di beberapa penjuru dunia, Standar kecantikan adalah cerminan nilai dan adat warga. Dari zaman peradaban kuno sampai zaman kekinian yang terpengaruhi globalisasi, tiap budaya mempunyai pemahaman yang berlainan dalam mendeskripsikan kecantikan. Standar ini bukan hanya menggambarkan selera seni, tapi juga nilai sosial dan bersejarah yang memicu kehidupan warga.
Contohnya, bentuk badan jam pasir kerap dipandang bagus dalam budaya Barat. Bentuk badan jam pasir (hourglass figur) merujuk pada pembagian badan yang mempunyai pinggang yang ramping, dengan pinggul dan dada yang semakin lebih besar atau seimbang hingga seperti bentuk jam pasir. Dalam budaya Barat, bentuk ini kerap dipandang bagus karena dipandang menyimbolkan daya magnet fisik, kesehatan, dan kesuburan. Dalam pada itu, di sejumlah budaya Asia, kulit putih mulus menjadi lambang kecantikan. Standar-standar ini tercipta dari sejarah panjang dan adat yang menempel pada budaya tertentu.
Baca Juga : 6 Fungsi Sunscreen untuk Kecantikan dan Kesehatan Kulit
Dalam beberapa budaya, khususnya di beberapa negara tradisionil, Standar kecantikan mempunyai hubungan kuat dengan ide pernikahan, khususnya untuk wanita. Keinginan untuk penuhi Standar ini dipandang seperti langkah untuk tingkatkan kesempatan temukan pasangan yang diharapkan. Penekanan seperti ini, yang umumnya mengambil sumber dari beberapa nilai tradisionil yang digenggam oleh orangtua atau warga, bisa mempengaruhi nilai diri pribadi. Mereka yang merasakan tidak penuhi Standar kecantikan itu kerap kali alami merasa tidak optimis, bahkan juga penampikan pada diri kita.
Pengertian Kecantikan
Pengertian kecantikan yang bagus benar-benar bervariatif di beberapa jenis kebudayaan. Di Amerika Serikat, contohnya, media umumnya tampilkan wanita dengan badan ramping sebagai lambang kecantikan. Tetapi, di sejumlah budaya lain, kecantikan wanita diibaratkan badan montok yang dipandang lebih subur dan sehat.
Di Asia Timur, Standar kecantikan terpusat pada beberapa ciri tertentu seperti kelopak mata, kulit putih, rahang yang sempit, dan mata besar. Trend ini capai pucuknya di awal 2000-an dengan reputasi produk pemutih kulit dan cream BB. Di Korea Selatan, Standar kecantikan makin kompleks, yang terpusat ke badan ramping, kulit pucat, dan proses seperti operasi kelopak mata yang mulai terkenal semenjak era ke-19.
Kebalikannya, di Afrika, banyak suku mempunyai pengertian kecantikan yang berlainan, dan umumnya terkait dengan jati diri budaya yang mereka punyai. Contohnya, sejumlah suku seperti Surma dan Mursi di Ethiopia memakai plat bibir sebagai lambang kecantikan dan pertanda persiapan untuk menikah. Perhiasan yang menempel dalam tubuh kerap dipakai untuk mengidentifikasi beberapa tahap penting di kehidupan, seperti pubertas dan penyiapan pernikahan, sekalian menggambarkan nilai sosial, politik, dan religius.
Kecantikan Tidak Cuma untuk Wanita
Standar kecantikan rupanya bukan hanya diaplikasikan ke wanita. Dalam budaya Barat, pria dengan badan berotot kerap dipandang seperti deskripsi bagus. Tetapi, di Asia Timur, terutama lewat trend yang ditenarkan group K-Pop, citra kecantikan pria datang berbentuk yang berlainan: badan ramping, rambut berwarna-warna, dan pemakaian dandanan. Peristiwa ini memperlihatkan jika ide kecantikan terus berbeda dan terpengaruhi oleh perubahan budaya pada tingkat global.
Ke Arah Akseptasi Diri
Globalisasi buka kesempatan untuk mengenali beragam Standar kecantikan dari penjuru dunia, sekalian tingkatkan pengetahuan akan keberagaman budaya. Tetapi, penekanan untuk penuhi harapan sosial kerap kali membuat pribadi merasa tidaklah cukup bernilai. Pada kondisi ini, terima diri apa yang ada menjadi makin penting.
Dalam kata lain, Standar kecantikan semestinya bukan mengenai performa, tapi bagaimana budaya itu dicontohkan. Pengakuan ini memperjelas keutamaan rayakan kekhasan budaya masing-masing, bukan memperbaiki diri untuk beradaptasi Standar external. The last but not least, kecantikan sejati bukan hanya terpusat pada faktor fisik, tapi juga pada kekuatan seorang terima dirinya dan merepresentasikan budaya dan beberapa nilai yang mereka menghargai. Di tengah-tengah dunia yang makin berbagai ragam, pesan ini berasa makin berkaitan.
Leave a Reply